Saat Semua Orang Masih Punya Kesempatan

Saat Semua Orang Masih Punya Kesempatan

Tik..tik..tik..

Bunyi hujan turun.

Aku baru pulang dari super market membawa beberapa tas kantung belanja. Di awal Maret ini beberapa tempat memberlakukan aturan bayar Rp. 200 untuk mendapatkan satu kantung plastik.

Sebagai orang Indonesia yang berpikiran idealis *ahhh* aku ingin banyak berpartisipasi dalam rangka menjaga bumi. Idealnya kan mengurangi sampah plastik, hemat listrik, hemat bahan bakar, kurangi penggunaan kertas, dsb.

Tapi dasar manusia, kadang kuakui aku sendiri juga banyak tidak konsistennya nih. Alasan macam-macam.

Sekarang sudah dimulai kembali gerakan hemat kantung plastik. Tapi rasanya baru kemarin, ya, supermarket pada heboh mengadakan kantong plastik berbayar dengan alasan supaya pengunjung bawa sendiri.

Dan mulai ramai juga jualan-jualan tas kain yang lucu-lucu sampai tas spesial untuk trolley supermarket.

troley

Gambar : tokopedia.com
Sedihnya, aku suka mendengar beberapa pengantri menggerutu karena harus bayar lebih untuk kantong plastik. Ada bisikan-bisikan protes kanan-kiri ini permainan pihak supermarket supaya dapat untung dari harga kantong plastik mahal lah, dsb.

Padahal disini masih mending ya. Kalau swalayan di negara maju ada yang malah tidak menyediakan kantung plastik sama sekali. Kalau nggak bawa, ya, silahkan saja pulang berakrobat membawa semua belanjaan! *ngalamin sendiri*

Aku dahulu masih sering melihat beberapa kasir yang diam-diam kasih kantong plastik gratis, entah kenapa. Seolah sudah bermurah hati dan berbuat kebaikan. Walau ada juga yang tetap kukuh, maksimal hanya kasih kardus.

Apa yang terjadi kemudian? Peraturan itu berubah (hilang), supermarket kembali menyediakan kantong plastik. Kemajuannya cuma…kantong plastiknya lebih tipiiiis. Eh, kecuali di beberapa tempat yang memang ketat soal lingkungan hidup ya. Seperti IKEA. Tidak ada opsi kantung plastik sama sekali! Adanya tas biru..

Di depan kasir, masih ada beberapa slot untuk tas-tas kain lipat untuk belanjaan. Penampakannya lebih mirip sisa-sisa fesyen dari musim yang telah lewat dan tidak dilirik pengunjung lagi.

Seperti halnya fesyen, sekarang baju lama dipakai kembali. Peraturan pembatasan pemakaian kantung plastik diperlakukan.

tas

Gambar : bisnis.com
Tapi melihat siklus angot-angot kemarin, aku kali ini jadi bertanya-tanya.

Kalau hanya diberlakukan aturan setiap konsumen supermarket membayar plastik Rp.200, mereka (para konsumen menengah keatas) bisa saja malas ribet dan pilih membayar Rp.200 per kantong plastik.

Itu betul-betul akan jadi tambahan keuntungan bagi supermarket (atau pengusaha plastik kali,ya). Logika bisnisnya bila harga plastik perlembar Rp.200 mudah saja pengusaha plastik yang menyuplai mulai menaikkan harga. Sehingga tujuan pengurangan produk plastik malah kontraproduktif.

Kenapa, ya, tidak dibatasi saja kebijakan membayar Rp.200 dalam tenggat waktu? Anggap saja kita sedang dalam masa transisi. Ujungnya dalam waktu 1 tahun kedepan benar-benar tidak diperbolehkan menggunakan kantung plastik lagi.

Daaan…kalau mau naik level lagi, kebijakan penggunaan plastik tidak hanya ditujukan pada supermarket. Konsumen juga tidak diperkenankan bawa kantung plastik sendiri, harus menggunakan bahan kain. Bahkan bisa saja yang perusahaan plastik dilarang memproduksi kantung plastik (ini ekstrim banget, sih hahaha).

Selanjutnya orang juga perlu dilarang untuk…… operasi plastik..

giphy (4).gif

*digetok ibu RS*

Ya, aku berharap tidak seperti fesyen, program ini lebih konsisten untuk kedepannya. Malu juga kan, Indonesia nomor dua pemakai kantung plastik terbesar di dunia kalau nggak salah *huk*huk*

Aku tidak masalah membawa kantong kain tapi dilemanya kadang aku juga butuh kantong plastik untuk bungkus tempat sampah…

Mungkinkah manusia tidak pernah siap menyelamatkan bumi? Padahal bukan bumi ya yang perlu diselamatkan. Bumi akan selalu baik-baik saja, ketika banjir, gempa, atau cuaca berubah. Dia tetap ada disana, berotasi, berevolusi sampai matahari menua dan menelannya.

Sebelum semua itu terjadi, iklimlah yang berganti, bencana juga berganti, hingga penghuni berganti. Seperti virus dan bakteri yang bergantian tersapu selama menempati tubuh…

rain-980076_960_720

Dan aku masih mendengar rintik hujan selama ini, lebih tampak seperti sebuah usaha keras bumi untuk kembali ke kondisi awal dan menyucikan diri. Ataukah itu bunyi detik perhitungan mundur sebuah bom waktu?

Saat semua orang masih punya kesempatan untuk menghentikan…

Tik…tik…tik…tik…

———

Rasanya perlu sering mengingat bahwa keturunan kita yang nanti akan menerima dampaknya. Kita kan belum tentu masih hidup, ya, untuk melihat hasil pembuangan sampah di masa depan? Kadang menyaksikan video klip di bawah ini, gambar dan arti liriknya membuat hatiku mencelos. Apa ini gambaran anak cucu kita di masa depan?

———

Bagaimana denganmu?

Gambar : pixabay.com, giphy.com

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: