Menghadapi Fenomena Harbolnas dan Black Friday

Menghadapi Fenomena Harbolnas dan Black Friday

Semakin maraknya e-commerce di Indonesia, makin banyak juga adaptasi perilaku berbelanja yang diambil dari luar negeri.

Sebagai contoh, Black Friday alias Jumat Hitam.

Sebuah fenomena belanja tahunan yang terjadi di Amerika dan Eropa yang jatuh pada hari Jumat minggu keempat bulan November. Di hari itu banyak toko menggelar diskon besar-besaran, bahkan berlomba-lomba untuk itu. E-commerce di Indonesia mengadaptasinya sekitar tahun 2017-an. Dan tentu saja membawa nama Inggris Black Friday, karena trend yang berbau luar negeri pasti so cool gitu hehehe..

Tapi sedikit orang yang tahu bahwa Black Friday adalah nama tidak resmi sebuah hari setelah hari Pengucapan Syukur di Amerika (Thanksgiving Day), sebuah libur nasional yang jatuh pada setiap hari Kamis keempat di bulan November. Dalam sejarahnya, mulai akhir November dan awal Desember, masyarakat negeri 4 musim tersebut akan memulai belanja jelang Natal.

Samalah dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang mulai banyak belanja Lebaran, gitu.

Black Friday sendiri di negeri sononya bukannya tanpa kontroversi. Terutama karena derasnya animo pembeli yang berujung pada tindak kekerasan, dari cakar-cakaran sampai kehilangan nyawa. Dan korban terjadi sepanjang tahun.

Akhirnya jadi terdengar ironis, bukan? Setelah sehari sebelumnya semua orang mengucapkan syukur atas anugerah yang diberikan. Hal yang sama juga terjadi di sini pada hari merayakan kemenangan, jelang Lebaran.

Fenomena tersebut memicu overspending. Orang jadi cenderung membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan. Hal itu akan berdampak pada banyak hal, salah satunya pencemaran lingkungan.

Sementara itu Harbolnas atau Hari Belanja Nasional, sebetulnya adalah Black Friday versi Indonesia. Namun berbeda dengan mereka,  Harbolnas dicetuskan oleh beberapa e-commerce Indonesia di tahun 2012 yang kemudian menjadi kegiatan tahunan dan mendapat dukungan dari berbagai pelaku industri seperi logistik, telekomunikasi, perbankan, media dsb. Tercatat lebih dari 250 e-commerce berpartisipasi.

Jadi bisa dibayangkan, kita dibombardir bukan saja oleh satu hari spesial belanja bagi-bagi diskon. Melainkan dua. Dan entah ke depannya akan ada berapa lagi. Hari belanja tanggal 1 bulan 1 hingga 12 bulan 12 kah?  Apakah ada rasa spesialnya? Ah, sebagai konsumen nggak perlu rasa spesial yang penting diskon kan hahaha..

Ada  kenalan di Amerika, yang memang punya perencanaan keuangan yang baik, ia spesial menabung dalam setahun khusus untuk dibelanjakan saat Black Friday dengan daftar-daftar belanja yang jelas. Bila demikian kegunaannya, maka niscaya hari belanja yang demikian akan positif dan menguntungkan.

Namun apakah banyak orang-orang yang berpikir terencana sepertinya, saya tidak begitu yakin. Karena yang biasanya terjadi saat ada diskon, seseorang cenderung “kalap” dan membeli barang-barang yang dia nggak butuh-butuh banget, atas nama “mumpung harganya lagi murah.”

Setelah mau declutter barang, baru terheran-heran kenapa barang kita jadi sebanyak ini. Di cek-cek eh, ini kan pakaian yang kita dulu beli saat diskon buy 2 get 1. Padahal kenyataannya, dipakai saja enggak. Hahaha…

Apakah tidak boleh menikmati Harbolnas dan Black Friday? Bisa saja tapi mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dulu sebelum menuju kasir atau ngeklik kata “beli. ”

Apakah saya membutuhkannya atau menginginkannya?

Butuh berbeda dengan ingin. Seseorang butuh peralatan tertentu agar pekerjaannya bisa berlangsung. Seseorang butuh sepotong baju hangat saat musim dingin, karena yang lama sudah rusak dan dia tidak punya lagi.

Kalau ingin, tanpa memiliki itu hidup tetap berjalan seperti biasanya tanpa membawa dampak seperti pekerjaan terhambat atau kena flu.

Apa, yang betul-betul kita inginkan dalam hidup ini? Tambahan hutang? Tambahan barang? Tambahan rasa tidak nyaman karena rumah jadi sesak?

Kemudian bayangkan apa yang harus kita kerjakan lagi agar mendapatkan uang senilai sama. Bandingkan nilainya dengan sesuatu yang bisa ditukar untuk itu, seperti liburan ke tempat yang asyik, investasi untuk sekolah anak, biaya kesehatan, persiapan pensiun, dsb.

Tentu saja godaan diskonan itu cukup gede.Ada seseorang yang ditawarin ratusan brosur bahkan berbagai banner diskon e-comerce, sikapnya tetap adem ayem. Woles. Tapi ada juga yang langsung berdoa minta agar imannya tidak goyah. Wkwkwk.

Bagi yang nggak kuat menahan godaan hari-hari belanja yang perlu dilakukan adalah :

Hindari Stimulus Belanja

Hindari semua yang bisa membuat mata melihat gambar serta tawaran diskonan. Bila tidak sanggup melakukan digital detox, cukup hindari membuka situs e-commerce, aplikasi, atau WA grup yang spesial jualan

Perbanyak Kegiatan Fisik

Bukan rahasia lagi kalau berburu barang diskonan memicu adrenalin dan setelah dapat mengalirlah endorfin. Lakukan kegiatan-kegiatan yang menggantikan semua itu, pergi keluar,  olah raga, berjalan-jalan, berkegiatan, berkumpul bersama keluarga, dsb.

Hitung-hitungan Untung Rugi

Coba lakukan hitung-hitungan, bahwa diskon seringkali tidak begitu menguntungkan, bila sebagai gantinya kita membeli lebih banyak. Memang disitu akal-akalan dari produsen, menutup kerugian dari diskon dengan membuat pembeli melakukan belanja masif.

Kesadaran Akan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Terutama bagi kita yang memang ingin berkontribusi pada isu lingkungan. Dorongan memproduksi barang terlalu banyak karena permintaan yang membludak akan berdampak pada jumlah sampah serta eksploitasi berlebih sumber daya alam dan berujung pada kerusakan lingkungan. Mungkin efeknya akan jauh lebih positif bila kita menggiatkan menukar, menyumbangkan, atau menjual  barang-barang bekas yang tidak dipakai dan layak pakai.


Di Amerika sendiri mulai timbul kesadaran untuk mengurangi barang (minimalist). Ada pergeseran sedikit demi sedikit tentang kebiasaan belanja yang selama ini ada. Ironisnya di Indonesia kebiasaan itu justru baru dimulai dan marak. Seharusnya kita belajar banyak dari i negara yang lebih dahulu merasakan dampak negatifnya.

Manusia sudah alaminya diciptakan untuk berburu serta tidak merasa puas. Berbeda dengan kondisi di jaman purba, di era modern ini semua menjadi tidak terbatas. Sehingga mengakibatkan berbagai perasaan-perasaan tidak nyaman serta besar pasak daripada tiang.


Bagaimana cara kamu menghadapi Harbolnas dan Black Friday?

Gambar : pixabay.com, bpjhstallions.com

 

 

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: