Digital Decluttering : Grup WhatsApp

Digital Decluttering : Grup WhatsApp

Beberapa waktu lalu saya melakukan digital “decluttering” grup WA. Left beberapa grup yang sudah diikuti lama.

Ada beberapa alasan saya melakukan itu.

Yang pertama, karena grup sudah tidak aktif lagi. Anggotanya sudah left satu persatu dan adminnya juga nggak notice (atau admin nya sendiri malah udah left… halahhh)

Yang kedua, grup yang berubah fungsi jadi marketing tools. Awal di invite karena saya memang mengikuti event-event tertentu. Saat event bubar, panitianya alih-alih membubarkan, menjadikan grup tersebut sebagai alat untuk promosi event-event mereka yang akan datang. Kalau ada diskusi masih bagus tapi bila isinya hanya sekedar promosi apa gunanya newsletter?

Yang ketiga, kasusnya sama seperti nomor dua di atas, bedanya panitianya sudah bubar tapi anggotanya menolak untuk membubarkan diri. Akhirnya seperti kapal tak bernakhoda penuh dengan obrolan ngalor ngidul. Harus rajin-rajin di clear chat.

Yang keempat, grup sudah “menyimpang” jauh dari tujuan saya mengikuti grup tersebut. Niat awal keikutsertaan saya adalah untuk silaturahmi serta pendidikan. Tapi mengapa semakin kemari semakin penuh tema politik, protes, dan ajakan kebencian. Oh lala!

Setelah di lakukan, saya kemudian menghitung kembali jumlah grup yang saya ikuti. Ternyata grup yang masih ada adalah grup yang saya ikuti karena memang “suka” atau karena “wajib”.  Ya, bisa ditebak tipenya grup hobi, alumni, profesional, sekolah, keluarga (tipe pertama dan kedua banyak yang sudah left juga).

Left Grup = Memutus Tali Silaturahmi?

Ada yang mengatakan bila kita left grup artinya memutus silaturahmi. Anggapan populer para pengguna gawai di Indonesia. Saya kurang setuju, pendapat ini. Alasan yang terlalu di ada-adakan, dibalik alasan psikis yang sesungguhnya ada.

Kehilangan beberapa info, yes. Tapi memutus? Waduh. Kan masih bisa japri. Kalau kita nge-block semua orang di grup yang kita left, nah itu baru namanya memutus tali silaturahmi dan ngajakin perang!

Jaman dulu memang ada, ya grup WA? Apakah mereka tidak bersilaturahmi?

Hadir kekhawatiran, kalau saya left grup nanti bagaimana bila disana ada info atau berita penting?

Lalu pelan-pelan saya tersadar. Yang saya alami itu adalah yang disebut-sebut di berbagai literatur sebagai FOMO. Fear of Missing Out. Penyebab psikis mengapa selalu ingin mempertahankan diri di dalam sebuah grup, padahal tidak ada alasan untuk itu. Kondisi yang membuat banyak orang selalu memiliki kebutuhan untuk membuka gawai.

Apa Tujuan Awal Mengikuti Grup?

Saya berusaha melawan segala ketakutan-ketakutan itu. Serta meyakinkan diri sendiri untuk mengingat tujuan awal mengikuti grup serta mendengarkan suara hati.

Maksudnya kalau sebuah grup sudah menyimpang dari tujuan awal kita mengikuti, mulai merasakan perasaan nggak nyaman, atau seringkali membuat ekspresi kita jadi…

…lalu apa alasan kita harus melanjutkannya?

Biasanya kita berusaha mencari alasan-alasan tetap ada disana, berada dalam status quo, karena dari awal ikut kita belum menetapkan tujuan. Padahal tanpa tujuan, keranjang kehidupan kita akan penuh dan kita akan sulit fokus pada apa-apa yang seharusnya lebih bermakna dalam keseharian.

Manusia tidak akan bisa mendapatkan semua dalam hidupnya yang terbatas. Selalu ada skala prioritas.

Efek negatif bila kita tidak melakukan decluttering kehidupan digital kita di WA, niscaya akan terlalu banyak informasi, perhatian akan habis pada hal-hal yang bukan urutan-urutan utama di kehidupan nyata. Kerugian teknis lain adalah memboroskan baterai serta membuat memori jadi kepenuhan.

Bagaimana bila tidak nyaman di grup tapi terpaksa ikut?

Saya banyak mendengarkan curhat, bagaimana seseorang merasa nggak nyaman ada di grup-grup yang sifatnya wajib, seperti keluarga atau pekerjaan. Penyebabnya, ya, kita semua tentu mengertilah, terlalu banyak karakter manusia yang belum tentu klik atau sepaham dengan kita. Apalagi lagi bila ada pembicaraan atau fwd-an aneh-aneh!

Kalau sejenis grup hobi atau grup teman dekat biasanya minimal ada satu unsur yang bikin klik kan?

Saran saya bila memang kita terpaksa ikut karena unsur keharusan di grup-grup tersebut (banyak pengumuman serta undangan) :

Berlaku sebagai member pasif saja.

Bagus, kalau kita sempat berperan atau sekedar tim hore (penabuh gong apapun yang di bilang…inggiiih). Hahaha.

Lalu bagaimana kalau di grup kebanyakan ngobrol ngalor ngidul atau ada pos-pos tidak menyenangkan?

Tinggal clear chat.

Dan voila….grup akan tetap terlihat netral di mata kita! Lha, iyalah, di scroll keatas dan ke bawah kan sudah nggak ada isinya lagi?

Clear chat itu ibarat kita membersihkan pikiran dari sesuatu yang membebani. Jadi diam-diam memiliki unsur healing juga. Baik untuk sering dilakukan.  Cukup tandai yang penting dengan bintang- lalu clear chat.

Berbeda dengan grup-grup jenis pekerjaan, sekolah, atau keluarga, grup-grup di luar itu semua kita tidak memiliki keharusan untuk hadir dan menyimak. Coba kebayang bila kita harus jadi member pasif dari banyak grup dan harus sering-sering clear chat?

Kecuali udah di setting, ya. Tapi setahu saya kalau di setting agar tidak di simpan semua percakapan, yang ada di grup penting juga otomatis terhapus. Sulit, ‘kan, ya? Tahu cara lain?

Bagaimana menentukan grup yang wajib diikuti?

Ini adalah pertanyaan yang tidak mungkin saya jawab. Yang menentukan apakah sebuah grup wajib diikuti adalah kebijakan masing-masing individu, ya. Setiap orang tentu memiliki sejarah hidup dan value yang berbeda-beda.

Apa yang menurut saya patut dipertahankan, belum tentu demikian bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya.

Dari contoh diatas, saya hanya menyebutkan faktor-faktor yang dianggap orang sebagai keumuman. Faktor relasi, kedekatan,  dan kepentingannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana rasanya?

Setelah konten grup WA gawai dirapikan, saya merasa lebih plong. Daftar yang harus dibaca menjadi menyempit. Saya juga lebih sering berkomunikasi secara japri sehingga hubungan silaturahmi yang sesungguhnya menjadi jauh lebih berkualitas.

Yang tersisa adalah bagaimana mengalihkan perasaan FOMO ke hal yang lain. Supaya tidak memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sepele seperti :

“Setelah saya left apa yang terjadi?”

Kapan mau nyelamatin dunia-nya?

Kalau dipikir-pikir itu’kan nggak penting banget, ya. Hahahaha. Maksudnya kita bisa tiba-tiba pergi karena liburan pun dunia akan berjalan seperti apa adanya.

===

Jadi apa tujuan dan prioritasmu selama ini bergabung dengan sebuah grup messenger?

 

Gambar : pixabay.com, yourquote.com, giphy.com

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: