Dampak Positif Minimalisme Saat Terjadi Black Out

Dampak Positif Minimalisme Saat Terjadi Black Out

Minggu kemarin, daerah tempat tinggal saya sempat kena pemadaman PLN yang cukup lama. Saya ingat dahulu juga mengalami hal semacam ini, tapi bukan hal yang dipusingkan atau sampai membuat panik.

Bagaimana dengan sekarang? Wah, di jaman milennial ini entah kenapa kita malah semakin tergantung pada listrik, saat banyak negara mulai go green dan rutin menggalakkan event Earth Hour.

Itu terjadi karena kita termanja sejak memasuki era internet. Dengan boomingnya e-commerce, kemudahan telekomunikasi, semua orang sudah “terbiasa” dengan jawaban, transaksi, serta pemecahan masalah secara instan.

Padahal telekomunikasi semacam itu membutuhkan sinyal kuat di setiap BTS (Base Tranceiver Station).

BTS memang memiliki baterai cadangan, yang akan menggantikan saat listrik mati, namun kapasitas daya listrinya terbatas.  Pasca gelap gulita dimulai, BTS hanya bisa bertahan 3 sampai 5 jam.  Beberapa dari BTS yang dimiliki provider memiliki mobile genset juga, tapi tidak mungkin semuanya punya. Bayangkan BTS seluruh Jawa ada berapa, bila semua punya mobile genset habis berapa milyar?

Gambaran BTS di Indonesia. Gambar : wikipedia.com

Karena tidak jelas kapan lampu di wilayahnya benar-benar hidup, warga banyak melakukan aktivitas seperti berjalan ke pusat perbelanjaan yang memiliki genset sendiri.

Saya kebetulan memang hari itu ada di salah satu pusat perbelanjaan. Disana saat siang dan sore tidak suasana seperti biasa, hanya lebih padat manusia dari biasanya.

Saat sore jelang malam dan listrik belum menyala juga, mulai terjadi kegelisahan. Terutama di toko-toko peralatan. Saya melihat terjadi antrian panjang mereka yang membeli senter, lampu darurat, sampai genset (nggak ada yang lampu teplok ya haha). Bahkan ada yang memborong sampai banyak sekali.

Di kondisi seperti ini, saya mengamati efek positif dari minimalisme yang diterapkan pada diri sendiri :

1. FoMo lebih mudah dikendalikan

Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan digital decluttering dan digital detox. Pada saat itu FoMo yang saya hadapi begitu luar biasa. Rasa penasaran akan apa yang terjadi. Merasa banyak hal tidak jelas dan tidak bisa dikontrol.

Ketika sinyal hilang, saya bisa “mengenali” tanda-tanda FoMo yang melanda. Rasanya familiar, begitu. Gelisah, bolak-balik mencoba menghubungi orang, dsb. Akhirnya saya simpan saja gadget dan mencoba menikmati suasana yang terjadi. Saya malah bisa mendokumentasikan banyak hal!

2. Tidak terburu-buru membeli barang 

Dalam kondisi seperti ini, gampang sekali terkena arus panik karena menularnya emosi. Tapi saya berpikir sekian kali bila mau menambah barang! Otomatis saya jadi tidak terpengaruh impulsive buying karena suasana gelisah- memborong banyak kebutuhan yang sebetulnya di hari biasa hanya butuh sedikit atau malah tidak perlu.

Nggak mungkin pulang-pulang bawa beginian….(Gambar : npc.gov)

3. Mengurangi Rasa Stress

Karena barang lebih sedikit, maka benda yang penting-penting juga lebih mudah di cari. Nggak perlu gelagapan bongkar sana bongkar sini. Kemudian sudah terbiasa menghabiskan waktu dengan anak-anak tanpa gadget (digital minimalism), kita bisa main board game.  Tidak ada keluhan, stress berkurang. Karena stress berkurang, maka..

4. Energi Bisa Dihemat

Itu jelas, karena emosi akan menghabiskan energi banget, ya.

5. Jadi Lebih Fokus

Karena tidak ada  mental block yang menghalangi, saya bisa lebih fokus kepada kondisi saat ini. Apa yang bisa dan harus dilakukan. Yang harus saya lakukan adalah tetap tenang, membuat suasana jadi lebih kondusif, memasak makanan yang sederhana, menghemat air, dan sebagainya.

6. Ruangan Lebih Lapang, Lebih Mudah Untuk Keluar

Terbayang kalau ruangan kita penuh dengan barang atau furniture, bila terjadi kondisi darurat seperti mendadak gempa tentu keluarnya tidak “mulus”.


Pentingnya persiapan akan kondisi darurat, kekuatan mental, keteraturan serta fokus sangat membantu melalui suasana chaos yang tidak jelas.

Saya merasa di hari Minggu kemarin, relatif jauh lebih siap dari tahun-tahun sebelumnya. Terutama yang berhubungan dengan blackout listrik dan telekomunikasi. Tentu saja kita juga berharap itu jangan sering-sering terjadi, ya. Hahaha.

Apakah kamu punya cerita juga?

Gambar fitur : flickr Gabriel Jorby

 

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: