Buku-Buku Tersayang…

Buku-Buku Tersayang…

Pernahkah kamu begitu menggemari sebuah benda? Sampai berjuang untuk mendapatkannya. Dirawat dengan penuh perasaan. Tingkat kesayangan yang sama seperti merawat hewan peliharaan.

Saya  pernah. Koleksi kesayangan…..buku!

Buku-buku saya dahulu disusun cukup rapi, ditulis sesuai tanggal beli. Terlindungi dan nyaris tidak terjamah, karena jarang dipamerkan dan baru bisa dipinjamkan setelah melewati prosedur investigasi dan screening yang tepat. Screeningnya sendiri jauh lebih susah daripada dapat visa masuk Amerika!

Namanya juga koleksi, kegemaran saya saat jaman old adalah menambah buku.  Ada buku di pojok sana, pojok sini. Bahkan ketika ada pilihan antara beli sepatu atau buku yang di beli…BUKU LAGI.

Kalau ada yang hilang, lecek, atau dibuang orang…terkadang sampai terasosiasi benar   (kalau dibuat meme gambarnya adalah diri ini berubah jadi kertas…jatuh melayang ke jurang tak berdasar!!). Bisa manyun berhari-hari. Dan pepatah favorit adalah buku sahabat manusia, or something like that. Samalah seperti…dog is men’s best friend..gitu.

Tetapi kegemaran ini tidak bersahabat dengan kondisi kehidupan saya yang pernah ditakdirkan  selalu berpindah-pindah. Kadang ada buku-buku yang harus rela ditinggal. Ketika lompatan kepindahan saya terlalu amat sangat jauhnya, mustahil membawa buku-buku kesayangan. Akhirnya terpasa dibungkuslah mereka rapi-rapi untuk dibuka di kemudian hari.

Buku di pandangan para pencintanya (gambar : pexels.com)

Nah. Ajaibnya, di tempat yang jauh pun entah kenapa buku-buku saya yang semula cuma ada satu dua, jadi beranak pinak!

Sampai akhirnya ada kejadian dimana saya mendadak harus pindah sana-sini dalam waktu lebih singkat lagi.

Mulai, deh, pegal linu, mengangkat buku kesana kemari. Jadi mual sendiri mendengar kata “buku”.  Karena rasanya hidup seperti dijajah buku! Badan rontok bagai Will E. Coyote kena senjata bikinan sendiri..

Siapakah sekongkolan saya saat pindah-pindah itu? Ironisnya, bukan kawan-kawan seperbukuan, geek, nerdy dan sejenisnya. Tapi malah mereka yang nggak kelihatan hobi buku sama sekali! Tipe-tipe manusia yang ketawa ngikik melihat para kutu buku keluar dari pameran buku membawa hasil sampai berdus-dus.  Kawan-kawan yang membuat was was saat dipinjami buku, karena seringkali pulang dalam kondisi lecek-lecek atau malah hilang sama sekali- biasanya karena lupa naruh dimana *tercurcol*.

Menarik memang apa yang diajarkan oleh kehidupan kepadamu. Terkadang bukan lewat teguran, melainkan kondisi yang penuh rasa humor.

Memang betul buku-buku terkadang lebih menarik dari manusia. Tapi manusia sebetulnya juga mirip “buku berjalan”, dengan karakter, kehidupan, dan memori luar biasa.  Bedanya, ya, yang bikin adalah Author tertinggi dari semua author.

Dari pengalaman berpindah-pindah itu dan seiring bertambahnya usia (!) saya mulai mengalihkan gaya belajar dan ketertarikan lebih banyak kepada manusia. Tidak melulu teori lagi, tidak perlu banyak fiksi.

Buku memang masih berharga dalam pandangan saya, tapi karena disana ada unsur manusia, yaitu informasi, hiburan, sampai tempat menyimpan catatan pemikiran manusia.

Demi ide sebuah buku, satu bangsa manusia mampu berperang melawan manusia lain. Bahkan ketika ada pembakaran buku oleh manusia, bila dikaji selalu manusiawi bukan bukuwi. Siapa kelompok manusia yang sakit hati atau dalam bahaya karena tulisan manusia lain?  Itu barangkali, yang seringkali luput dari rasa sakit hati pencinta buku, macam saya dulu.

Atas nama buku, mungkin saya juga melakukan banyak hal-hal yang tidak bisa dibanggakan.

Padahal kalau sebuah peradaban musnah ditelan gempa, semua itu juga tidak bersisa, kali, ya? Nilai buku adalah pada informasi dan komunikasi antar manusia yang ada di depan dan belakangnya. Begitu sederhananya.

Beberapa prinsip dasar dari menyederhanakan koleksi buku dari KonMari
dalam The Life Changing Manga of Tidying Up! Klik disini untuk memperbesar

Apakah kita sudah membaca semua buku yang kita punya?

“Eh..itu….”

Umumnya begitu jawaban diam-diam kebanyakan dari kita, penimbun buku.  Punya segabruk koleksi buku-buku, tapi adaaa saja yang masih belum dibaca.  Betul?

Dan saya setuju dengan apa yang disebutkan oleh Marie Kondo dalam The Life-Changing Magic of Tidying Up. Bahwa seberapa banyak buku yang kita punya (termasuk yang belum sempat dibaca), sebetulnya mereka sudah menunaikan “tugas”nya dalam memberi informasi. Dalam arti harafiah dan arti yang lain (bahwa sesungguhnya kita tidak membutuhkan mereka). Informasi tersebut telah diinput ke dalam otak pembaca.

Saran, jangan pernah meremehkan kekuatan penyimpanan informasi jangka panjang dalam memori kita! Terutama pada hal-hal yang kita sukai, saat sedang gembira.  Saya sendiri pernah terkejut betapa hafalnya saya pada sebuah modul padahal hanya membacanya sekali dua. Saat membacanya juga sambil lalu, main-main, dan nggak serius.

Suatu hari, akan tiba waktunya buku-buku akan berpindah kepemilikan, baik disengaja atau tidak oleh si pemilik. Keikhlasan melepaskan suatu sumber informasi, niscaya menyediakan ruang bagi informasi baru yang lebih banyak datang.

Pada akhirnya tidak ada satu pun yang abadi kita miliki di dunia.. Tidak juga sebuah benda, tidak juga manusia dan pemikiran-pemikirannya yang diwariskan.

 

Nemu ilustrasi menarik dari Grant Snider. Kamu ada di tahap mana?

Sekarang koleksi saya banyak berkurang, karena sudah dibagi dan dijual. Pertimbangan menambah satu buku sekalipun harus penuh kehati-hatian. Karena ruangan yang dulu dipenuhi buku, sudah tidak ada, hanya tersisa buku-buku yang memang menyenangkan hati, sebagian berganti fungsi menjadi tempat main anak. Hahaha..

Apakah kamu juga punya koleksi barang yang disayang? Ada kisah yang pahit manis juga sehubungan dengan itu? :))

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: